Translate

Minggu, 25 Maret 2012

Sikap Hidup Kresna

Tokoh Kresna dikenal dalam cerita India, kemudian datang ke Indonesia dan dikembangkan melalui sastra Jawa kuna dan sastra Jawa baru. Dalam mitologi India diceritakan Kresna sebagai awatara dewa Wisnu, kehadirannya di dunia sebagai jelmaan dewa Wisnu yang kedelapan. (Dowson, 1957: 160). Y.E.van Lohuizen dalam penelitannya menyimpulkan, Kresna merupakan awatara Wisnu yang ke duapuluh. Wisnu berturut-turut berawatara menjadi Purusa, Wariha, Narada, Nara dan Narayana, Kapila, Dattatreya, Yajna, Rsabha, Prthu, Matsya, Kurma, Dattwantari (dua kali) Narasingha, Wamana, Parasurama, Wedawyasa, Rama, Balarama, Kresna, Buddha dan Kalkin (Lohuizen, 1976 : 31)
Dalam Bab II dan III telah diuraikan cerita Kresna yang bersumber kesastraan India dan sastra pewayangan. Berikut ini perbandingan dan pemaparan jatidiri Kresna yang diambil dari berbagai sumber cerita.
Kresna Sejak Kanak dan Menjelang Dewasa
Kresna adalah anak Dewaki dan Wasudewa, termasuk suku Yadawa, keturunan Yadu ia lahir dari kehamilan yang ke delapan, jelmaan dewa Wisnu. Isteri Wasudewa yang lain bernama Rohini, beranak Sankarsana berkulit putih (Wisnupurana, 1961 : 401). Dalam kitab Wisnupurana dan Mahabharata diceritakan, Wisnu mencabut dua helai rambut putih dimasukan di rahim Rohini, sehelai rambut hitam ke rahim Dewaki. Setelah Rohini dan Dewaki hamil dan beranak, masing-masing melahirkan Balarama berkulit putih dan Kresna berkulit hitam. Diceritakan pula, bahwa Ugrasena raja Manthura mempunyai saudara laki-laki bernama Dewaka. Ugrasena beranak Kangsa, Dewaka beranak Dewaki. Dewaki diperisterioleh Wasudewa, yang kemudian beranak Balarama dan Kresna (Dowson, 1957:161). Karena diramal, bahwa Balarama dan Kresna akan menghancurkan kekuasaan Kangsa, Balarama dan Kresna dititipkan kepada Nanda dan Yasoda (Dowson: op.cit,165)
Dalam kitab kakawin Krnandhaka diceritakan dewa Wisnu menjelma dalam rahim Dewati atau Raiwati isteri Basudewa. Dewa Basuki turun dalam isteri Basudewa yang bernama Rohini. Rohini melahirkan Kakrasana, Dewati melahirkan Kresna. Sejak bayi Kakrasana dan Kresna dititipkan kepada Antagupta dan Ayaswadha di Gobraja daerah Magadha (Kresnandhaka Zang IV – V)
Perkembangan cerita Kresna pada masa kecil dalam cerita pewayangan sedikit mengalami perubahan dan mempunyai beberapa versi cerita.
Dalam Serat Pakem Padhalangan Wayang Purwa, lakon Wisnu Nitis atau Lairipun Kangsa (Naskah Reksapustaka Surakarta Nomor D.79:2349-252), diceritakan demikian: Atas perintah Sang Hyang Guru, Hyang Wisnu menjelma ke marcapada bersama Bathara Laksmanasadu dalam wujud ular naga. Hyang Basuki ingin ikut menjelma, Sang Hyang Brama mendukungnya. Sang Basuki dan Bathara Laksmanasadu bersatu menjelma bersama. Harimau putih dan ular naga datang di hutan tempat Basudewa berburu. Kemudian mereka dibunuh oleh Basudewa. Harimau putih musnah oleh panah Basudewa. Jasmaninya masuk ke Dewi Kunthi isteri Pandhu. Naga musnah oleh panah Basudewa. Jasmani dan roh halusnya merasuk kepada Dewi Rohini isteri Basudewa yang lain. Kemudian Dewi Kunthi beranak Arjuna, jelmaan dari Wisnu. Dewi Rohini beranak Kakrasana.
Nojowirongko bercerita, penjelmaan Wisnu ke dunia terbelah menjadi dua, yaitu Kresna dan Arjuna. Andaikata bunga, mereka sebagai mahkota dan sari bunganya. Andaikata api, mereka sebagai bara api dan nyala apinya. Andaikata sirih, ibarat bagian muka dan belakang daunnya, berbeda rupa, bila digigit sama rasanya (Nojowirongko, 1954: 66).
Dalam Serat Pakem Purwa, lakon Kangsa Lair (Naskah Reksapustaka Surakarta Nomor D.70:65) diceritakan, bahwa isteri Basudewa bernama Mahera, Dewi Rohini dan Dewi Mahendra. Kangsa lahir dari Mahera, hasil hubungan gelap dengan Gorawangsa. Kakarsana atau Kakrasana lahir dari Dewi Rohini, jelmaan dewa Bathara Basuki.dan Bathara Laksmanasadu. Kresna atau Narayana lahir dari Dewi Mahendra jelmaan dewa Wisnu. Kakrasana dan Kresna diasuh oleh Buyut Antagopa atau Buyut Nandagopa di Widarakandhang
Kasidho Gitasewoyo dalam cerita Basudewa Grogol, menceritakan Basudewa mempunyai isteri Amerta, Dewi Badraini dan Dewi Maherah. Dewi Amerta melahirkan dua anak kembar, diberi nama Kakrasana dan Narayana. Masing-masing berkulit hitam dan putih. Dewi Badraini beranak perempuan, diberi nama Bratajaya. Hasil hubungan gelap dengan Gorawangsa, Dewi Maherah melahirkan Kangsa (Kasidho Gitosewoyo, 1978: 29-33)
Dalam Serat Kandhaning Ringgit Purwa diceritakan, Basudewa mempunyai isteri Dewi Angsawati, Dewi Ugraini dan Dewi Badraini. Hubungan gelap antara Dewi Angsawati dengan Prabu Gorawangsa raja Jadingklik melahirkan Kangsa. Dewi Ugraini (Ugrawala) beranak Kakrasana, jelmaan Dewa Basuki. Badraini melahirkan dua anak kembar, bernama Narayana dan Endang Panangling (Kandhaning Ringgit Purwa: P CXXVII – CXXVIII).
Dalam Serat Babad Purwa diceritakan, Basudewa mempunyai isteri Dewi Angsawati, Ugraini dan Ugrayani. Angsawati berhubungan gelap dengan Mayangkara, beranak Kangsa. Ugraini beranak Kakrasana, Ugrayani beranak Narayana. Setelah beranak Kakrasana dan Narayana, Basudewa mengambil isteri ke empat bernama Badraini (Babad Purwa: P LXXXIII 1-38) Hadikartoso dalam cerita lakon Laire Kakrasana Sakadang menceritakan, bahwa Bathara Wisnu bersama Bathara Leksmanasadu dan Bathara Basuki menjelma ke dunia. Mereka menjelma dengan perantara isteri Basudewa raja Mandura. Mereka bertiga turun ke dunia dalam wujud harimau putih dan ular naga. Harimau dan ular naga itu dibunuh oleh raja Basudewa, ketiga sang raja itu berburu di hutan. Roh mereka merasuk ke tubuh isteri Basudewa yang bernama Rohini, Dewaki dan Badraini. Rohini melahirkan bayi yang berkulit putih, diberi nama Kakrasana. Kemudian Dewaki mempunyai anak berkulit hitam, diberi nama Narayana atau Kresna. 

Rabu, 08 Februari 2012

Kresna Duta


Kunthi dihadap Karna di Ngawangga. Kresna datang bercerita tentang kepergiannya ke Ngastina sebagai utusan Pandhawa. Dikatakannya bahwa perang Baratayuda sudah diambang pintu, sebab Duryodana tidak mau melepas kekuasaannya atas Negara Ngastina. Kunthi diajak ke Negara Wiratha, sebab semua warga Pandhawa telah berkumpul di negara itu. Kunthi bersiap-siap pergi ke Wiratha. Melihat ibunya Karna menjadi bimbang. Ia berkata kepada Kresna, bahwa ia akan berpihak kepada Pandhawa. Kresna tersenyum, lalu menegur, memperingatkan bahwa Karna telah berjanji akan berpihak kepada Duryodana. Sebagai ksatria Karna harus berpegang kepada janjinya. Karna terpaksa mendengarkan kata-kata Kresna. Kemudian dengan rasa bimbang ia mengantar kepergian ibunya dan Kresna ke Wiratha.

Atas meninggalnya Drestharastra dan Gendari, Pendeta Drona dan Sakuni meminta agar Dursasana mencari korban. Dursasana pergi, kemudian menemukan tukang perahu bernama Sarka dan Tarka. Mereka berdua diminta kesediaannya menjadi korban. Sarka dan Tarka tidak bersedia, tapi mereka berdua dibunuh oleh Dursasana. Terdengar suara, bahwa mereka akan membalas dendam dalam perang Baratayuda. Dursasana tidak gentar, dua mayat tersebut dibawanya ke Ngastina.
Dursasana menghadap raja Duryodana dan memberi tahu bahwa korban telah tersedia. Bathari Durga dan Bathara Kala datang. Raja Duryodana meminta kesediaan mereka berdua untuk membantu perang Baratayuda. Mereka berdua akan mengusahakan dan meminta kurban. Dursasana menyerahkan dua kurban, Sarka dan Tarka. Kemudian Bathari Durga dan Bathara Kala pergi ke Wiratha setelah menerima jenasah Sarka dan Tarka.
Raja Matswapati dihadap oleh Puntadewa, Wrekodara, Arjuna, Nakula, Sadewa serta Resi Janadi, Resi Sagotra dan Bambang Irawan. Kemudian Kunthi datang bersama Kresna. Mereka membicarakan rencana perang Baratayuda. Janadi berkata kepada Matswapati bahwa ia pernah berjanji ingin menjadi kurban menjelang perang Baratayuda. Permintaan Janadi dan dua kawan lainnya untuk menjadi kurban diserahkan kepada Kresna dan Arjuna. Kurban manusia dilaksanakan, dengan permohonan agar Pandhawa menang dalam perang Baratayuda serta warga Pandhawa utuh dan selamat. Tetapi Arjuna lupa mengajukan permohonan untuk keutuhan dan keselamatan putra-putri Pandhawa.
Bathari Durga dan Bathara Kala tiba di Wiratha. Bathara Kala minta kepada raja Matswapati supaya membujuk Padhawa untuk menyerah kepada Korawa. Bila tidak mau menyerah, Pandhawa yang berjumlah lima ditakdirkan menjadi catu makan bagi Bathara Kala. Para Pandhawa tidak mau menyerah. Mereka pun menyerang Bathara Kala. Tetapi tidak seorang pun mampu melawan Bathara Kala.
Kresna naik ke Kahyangan. Di tengah perjalanan ia berjumpa dengan Wisanggeni, anak Arjuna. Kresna bercerita tentang Bathara Kala dan nasib keluarga Pandhawa. Wisanggeni tidak jadi ke Wiratha. Ia pergi ke Ngondarandir Bawana untuk menghadap Sang Hyang Wenang.
Wisanggeni menghadap Sang Hyang Wenang, dan meminta keterangan jadi atau tidaknya perang Baratayuda. Sang Hyang Wenang menjawab, perang harus terjadi, dan bila ada penghalang harus dilenyapkan. Wisanggeni memberi tahu bahwa Bathara Kala berusaha mengurungkan perang Baratayuda dengan membujuk agar Pandhawa menyerah pada Korawa. Sang Hyang Wenang berjanji akan menolong Pandhawa, tetapi kelak Wisanggeni tidak diperkenankan ikut menyaksikan perang Baratayuda. Wisanggeni menyanggupinya. Sang Hyang Wenang meminjaminya Gada Intan untuk membunuh Bathara Kala. Setelah menerima Gada Intan, Wisanggeni pergi ke Wiratha. Gada Intan diserahkannya kepada Wrekodara untuk membunuh Bathara Kala.
Wrekodara menemui Bathara Kala. Bathara Kala hendak menerkam Wrekodara, tetapi tubuhnya digores dengan GadaIntan oleh Wrekodara. Ia mati seketika. Gada Intan diserahkan kembali kepada Kresna. Kresna menyamar berujud Bathara Kala, menemui Bathari Durga. Bathari Durga diminta membunuh Pandhawa dengan Gada Intan. Gada Intan supaya disisipkan dalam kain penutup dada. Bathari Durga menerima Gada Intan, lalu disisipkan dalam kain penutup dada. Sewaktu melangkah Bathari Durga jatuh tertelungkup. Dadanya hancur karena Gada Intan. Bathari Durga mati seketika itu juga.
Pandhawa selamat dari ancaman Bathara Kala. Gada Intan dibawa Kresna, kemudian Wisanggeni ditugaskan mengembalikannya kepada Sang Hyang Wenang.
Wisanggeni menghadap Sang Hyang Wenang, mengembalikan Gada Intan dan ingin menepati janjinya. Atas kuasa Sang Hyang Wenang, Wisanggeni kembali ke alam baka.
Raja Duryodana dan warga Korawa tahu bahwa usaha Bathara Kala dan Bathari Durga tidak berhasil menumpas Pandhawa. Para Korawa serentak menyerang Negara Wiratha. Para Pandhawa melawan serangan Korawa. Korawa mundur, kembali ke Ngastina, dan bersiap-siap untuk menghadapi perang besar.
Para Pandhawa dan keluarga Wiratha berpesta keselamatan, bebas dari ancaman Bathara Kala.

Jumat, 20 Januari 2012

Kresna Gugah



Raja Duryodana dihadap oleh Patih Sakuni, Pendeta Drona, raja Baladewa, raja Salya, Karna, dan beberapa warga Korawa. Raja menyampaikan masalah ilham yang diperolehnya. Ilham itu menyatakan bahwa yang berhasil membangunkan Kresna dari tidur akan menang dalam perang Baratayuda. Raja minta kesediaan raja Baladewa untuk membangunkannya. Raja Baladewa menyanggupinya, lalu mohon diri, berangkat ke Dwarawati. Karna dan warga Korawa mengikutinya.
Di Negara Dwarawati, Satyaki, Satyaka, Emban Druwaja dan Patih Udawa menjaga Balai Kambang, tempat raja Kresna tidur. Raja Baladewa, Karna dan beberapa warga Korawa datang. Mereka ingin membangunkan Kresna. Para petugas penjaga tidak mengijinkannya. Terjadilah perkelahian. Satyaki mengamuk, warga Korawa dan Karna tidak mampu melawannya. Namun Baladewa mengamuk dengan membawa Nenggala sehingga Satyaki dan kawan-kawan menyingkir. Baladewa berhasil mendekati tempat tidur. Tetapi sewaktu akan membangunkan Kresna, senjata Cakra menyerang Baladewa. Baladewa lari dan bertahan di luar Negara Dwarawati. Prajurit Ngastina disuruh bersiap-siap di sekitar Negara Dwarawati.
Tersebutlah di Negara Jurang Parangsuh, Raja Locanadewa dihadap Dewamurti dan Patih Subagendra, tengah membicarakan kematian Raja Kalamungsa, ayah raja Locanadewa. Togog bercerita bahwa kematian ayah raja karena dibunuh oleh Arjuna, ksatria Madukara. Maka Raja Locanadewa ingin membunuh Arjuna, membalas kematian ayahnya. Para prajurit Jurang Parangsuh disiapkan, lalu berangkat ke Ngamarta. Raja berangkat lewat angkasa.
Raja Locanadewa bertemu Gathotkaca yang akan pergi ke Ngamarta. Mereka saling bertanya, namun kemudian Gathotkaca menghantam karena raja Raksasa itu ingin membunuh Arjuna. Locanadewa tidak mampu melawan Gathotkaca, lalu menyimpang jalan. Gathotkaca meneruskan perjalanan menuju Ngamarta.
Arjuna bersama panakawan berangkat ke Ngamarta. Di tengah perjalanan mereka bertemu dengan prajurit raksasa dari Jurang Parangsuh. Setelah mengerti maksud dan tujuan prajurit raksasa itu, Arjuna mengusirnya. Raksasa berhasil dimusnahkan, dan Arjuna meneruskan perjalanan ke Ngamarta.
Sementara itu di Negara Ngamarta, Puntadewa dihadap oleh Wrekodara, Arjuna, Nakula, Sadewa, Patih Udakawana, Gathotkaca dan Antareja. Puntadewa bercerita tentang Kresna yang sedang bertapa, tidur di Balai Kambang, dan memberi tahu ilham yang diperolehnya. Setelah mereka merundingkan masak-masak, mereka berangkat ke Dwarawati hendak berusaha membangunkan Kresna.
Satyaki dan Satyaka sedang membicarakan Baladewa yang berusaha membangunkan Kresna. Kemudian Puntadewa datang bersama warga Pandhawa. Puntadewa menceritakan maksud kedatangannya. Satyaki mempersilakan warga Pandhawa untuk membangunkan Kresna tetapi tidak berhasil. Arjuna menghadap Semar, lalu menyatakan kesedihannya. Semar mengingatkan kedudukan Arjuna terhadap Kresna. Ibarat cincin, mereka sebagai bingkai dan permatanya. Maka sungguh mengherankan jika Arjuna tidak tahu tujuan tapa Kresna. Mendengar peringatan Semar itu Arjuna menjadi sadar, lalu berjalan mendekati Kresna. Ketika meraba badan Kresna terasa dingin, berarti tanpa sukma. Arjuna lalu mengheningkan cipta, berbadan halus, mengaku bernama Sukma Langgeng. Lalu Sukma Langgeng pun berangkat ke Suralaya.
Di Suralaya, Batara Guru dihadap oleh Bathara Narada, Bathara Panyarikan, Bathara Indra, Bathara Brahma dan beberapa dewa lain. Bathara Guru menanyakan gara-gara yang terjadi di Marcapada. Bathara Narada bercerita tentang Kresna yang tidur di Balai Kambang. Dikatakannya Kresna ingin memiliki kitab Jitabsara, Pakem Baratayuda. Batara Guru tergerak hatinya untuk mengarang kitab Jitabsara. Panyarikan diminta untuk menulis hasil pembicaraan mereka. Bathara Guru dan Bathara Narada merencanakan isi surat Pakem itu. Antara lain menulis tokoh yang gugur dalam perang Baratayuda yang akan terjadi nanti. Dhrestharastra dan Gendari harus mati. Seta gugur melawan Bisma, Bisma gugur melawan Srikandhi, dan seterusnya. Namun sewaktu hendak mencatat Baladewa dan Antareja, tempat tinta tumpah karena ditabrak lebah Lanceng Putih. Lebah hilang, datanglah sukma Kresna yang bernama Sukma Wicara.
Bathara Guru dan Bathara Narada menemui Sukma Wicara. Sukma Wicara ditanya alasannya menumpahkan tinta. Ia menjawab, tidak setuju Baladewa dimusuhkan Antareja. Antareja tidak akan terlawan oleh Baladewa. Bathara Guru menanyakan kesaktian Antareja dan cara menyingkirkannya. Dijawab bahwa Sukma Wicara telah mempunyai akal dan sanggup melaksanakannya, tetapi ia harus diberi Jitabsara. Bathara Guru menyanggupi permintaan Sukma Wicara, tetapi harus ditukar dengan Sekar Wijayakusuma. Setelah sepakat dengan perjanjian mereka, Sukma Wicara minta pamit. Sepeninggal Sukma Wicara, Sukma Langgeng datang, menanyakan perihal Sukma Wicara. Bathara Guru bercerita tentang pembicaraannya dengan Sukma Wicara. Sukma Wicara telah pergi. Mendengar keterangan Bathara Guru itu, Sukma Langgeng cepat-cepat minta diri, lalu pergi mencari Sukma Wicara. Sukma Langgeng berhasil menemukan Sukma Wicara. Ia minta kitab Jitabsara. Sukma Wicara tidak memberikannya, maka terjadilah pertikaian. Sukma Wicara lari, lalu masuk ke raganya. Sukma Langgeng mengejarnya. Sukma Langgeng juga masuk ke raganya. Kresna terbangun dari tapa, dan Arjuna menemuinya. Mereka berunding tentang rencana menyingkirkan Antareja. Selanjutnya.Puntadewa dan saudara-saudara Pandhawa datang. Kresna bercerita kepada Puntadewa sesaudara tentang riwayat memperoleh Pakem Baratayuda. Ia akan berpihak pada Pandhawa. Kresna berbicara tentang Antareja, bahwa telah tersedia surga baginya. Pandhawa diminta keikhlasan hati mereka. Setelah mendengarkan keterangan Kresna, para Pandhawa menyerahkan nasib Antareja.
Kresna menemui Antareja di luar Bale Kambang. Antareja ditanya kesiapan perang Baratayuda. Antareja menyatakan siap, dan bercerita tentang kesaktian yang diperoleh dari Sang Hyang Antaboga. Ia memperoleh Taring Kencana. Manusia yang dijilat akan hancur. Bahkan jika dijilat bekas telapak kakinya, orang tersebut akan meninggal. Maka Korawa pasti hancur olehnya. Untuk membuktikan kesaktian itu, Antareja disuruh Kresna menjilat bekas telapak kaki yang ada didekatnya. Antareja pun menjilat bekas telapak kaki yang ternyata miliknya sendiri. Antareja mukswa, naik ke surga

Jumat, 16 Desember 2011

Jatidiri dan Sifat Kepemimpinan KRESNA

Orang mempelajari cerita pewayangan kebanyakan perhatiannya tertuju kepada judul cerita dan isi pokok ceritanya. Tetapi orang sering ingin mempelajari lebih dalam, ingin mengetahui unsur-unsur cerita yang membentuk struktur ceritanya, unsur yang menjadi perhatian mereka antara lain tema dan tokoh.
Bila mengkaji cerita pewayangan, terutama mengenai tokoh-tokoh, amat banyak jumlah tokoh yang diperolehnya. Secara garis besar tokoh cerita pewayangan terdiri dari tokoh dewa dan tokoh bukan dewa. Tokoh dewa dibedakan jenis pria yang disebut dewa atau dewata, dan mendapat sebutan Hyang, Sang Hyang atau Bathara. Jenis wanita, disebut bidadari dan mendapat sebutan Dewi atau Bathari. Tokoh bukan dewa terdiri dari manusia atau yang diindetikkan dengan manussia, raksasa, jin dan setan yang sering disebut lelembut dan hewan, tetapi bukan hewan sembarangan, melainkan hewan jelmaan dewa atau tokoh hewan yang mempunyai kelahiran dan kehidupan luar biasa.
Tokoh-tokoh itu tersebar luas dan didapat dalamn cerita lama dan baru. Secara garis besar cerita pewayangan dapat diurutkan sebagai berikut: Pertama, cerita yang menampilkan tokoh dewa dengan keturunnannya. Kedua, cerita Arjunasasra dan tokoh Ngalengka yang bertitik tolak pada masa kehidupan Dasamuka Ketiga, cerita Rama sesaudara dengan permusuhannya dengan Dasamuka sesaudara. Keempat, cerita yang bersumber pada cerita Mahabarata. Cerita yang bersumber pada cerita Mahabarata terbagi pada masa sebelum kelahiran Pandhawa dan Korawa, pada masa kehidupan Padhawa dan Korawa, dan masa setelah kehancuran Korawa dalam perang Baratayuda. Pada masa kehidupan Pandhawa dan Korawa ini muncul berbagai peristiwa yang banyak diolah dan diciptakan bermacam-macam cerita lakon.
Masyarakat Jawa sangat tertarik kepada cerita Mahabarata, terutama cerita yang menyangkut kehidupan Yudhistira sesaudara dan Duryodana sesaudara. Cerita bermunculan dengan tema cerita yang menampilkan masalah kehidupan dua kelompok keluarga Pandhawa dan Korawa itu.Cerita yang menampilkan masyarakat Pandhawa dan Korawa ternyata banyak melibatkan kelompok masyarakat lain. Cerita pewayangan disusun dan dikarang seperti cerita kehidupan masyarakat sungguhan. Munculah jenis cerita roman, yang bisa disebut roman pewayangan, sejenis roman simbolik.
Para penyusun cerita lakon pewayangan selain melibatkan tokoh kelompok Pandhawa dan Korawa, juga melibatkan kelompok tokoh dari negara Wiratha, Mandura, Dwarawati, Ngawangga dan negara-negra kecil lainnya.Cerita pewayangan yang mengambil latar tempat Ngamarta, Ngastina dan beberapa negara itu banyak melibatkan tokoh terkenal. Tokoh Pandhawa yang terkenal ialah Yudhistira, Wrekodara, Arjuna, Nakula dan Sadewa. Tokoh Korawa yaitu Duryodana bersama seratus saudara sekandungnya. Tokoh Baladewa dari Mandura, tokoh Kresna dari Dwarawati, dan tokoh-tokoh negara lain serta putra Pandhawa dan Korawa. Mereka banyak terlibat dalam penyusunan cerita lakon mengenai perebutan pewaris kerajaan Ngastina yang amat menarik masyarakat pecinta pewayangan. Tokoh Kresna lebih cenderung kepada pihak Pandhawa.Tokoh Kresna dikenal sebagai manusia jelman dewa, tokoh itu mempunyai banyak cerita dan keistimewaan. Maka termasuk tokoh yang menjadi perhatian masyarakat pecintanya. Demikian besar perhatian masyarakat terhadap tokoh itu, kemudian muncul banyak cerita lakon dengan menampilkan tokoh Kresna. Kelahiran, perkawinan dan beberapa cerita lakon mengangkat tokoh Kresna sebagai tokoh utama. Cerita yang melibatkan warga Padhawa kebanyakan melibatkan Kresna juga.oleh karena itu bila menyoroti tokoh Kresna akan memperoleh gambaran watak dan sikap Kresna dalam berbagai peristiwa.Cerita lakon secara simbolik melukiskan kehidupan masyarakat sekelilingnya atau masyarakat pecintanya. Kresna berkedudukan sebagai raja, anggota keluarga Mandura dan Dwarawati, dan anggota masyarakat. Kresna diberi watak sebagai manusia yang berkedudukan pemimpin dan orang terkemuka. Maka segala sesuatu perwatakannya menjadi cerminan tokoh pemimpin masyarakat pecintanya.

Senin, 28 November 2011

Batara Ganesa


BATARA GANESA
Batara Ganesa terkadang ditulis Ganesya,disebut juga Batara Ganapati,atau Batara Gana,dianggap sebagai Dewa Pendidikan,Sastra,dan Penyebar Ilmu Pengetahuan.Ia adalah anak Batara Guru dari Dewi Umaranti,yang tinggal di kahyangan Glugutinatar.
Batara Ganesa lahir tidak dalam bentuk manusia,melainkan dalam ujud menyerupai gajah,lengkap dengan gading dan belalainya.Hal ini terjadi karena sesaat setelah Batara Guru dan Dewi Uma saling bercumbu kasih,para dewa datang menghadap.Di antara mereka yang datang menghadap adalah Batara Endra yang mengendarai Gajah Airawata.Gajah itu luar biasa besar,sehingga membuat takjub dan kaget Dewi Uma,yang saat itu lagi mengandung.Karena ketakjubannya itu,maka kemudian Dewi Umaranti melahirkan putera yang bentuk dan wajahnya mirip sekali dengan gajah.
Bayi gajah Ganesa ternyata juga memiliki kesaktian luar biasa.Ia dapat mengalahkan raja raksasa Nilarudraka dari kerajaan Glugutinatar,yang datang menyerbu kahyangan.Ketika itu raja raksasa gandarwa itu mengamuk karena lamarannya pada Dewi Gagarmayang ditolak.Setelah dikalahkan,Glugutinatar dijadikan kahyangannya.Dalam pewayangan,pada lakon Batara Brama Krama,Batara Ganesa pernah diruwat oleh Batara Brama sehingga ujudnya menjadi dewa yang tampan,tidak lagi berkepala gajah.Setelah ujudnya berubah,Batara Ganesa dikenal dengan sebutan Batara Mahadewa.Menurut Adiparwa,yaitu bagian pertama dari Mahabarata,Ganesa juga berjasa menjadi juru tulis Empu Wyasa yang mengarang kitab Mahabarata itu.Nama lain Batara Ganesa adalah Ganapati,Lambakarna,Gajanana,Karimuka dan Gajawadana.

Minggu, 20 November 2011

SERBA-SERBI WAYANG PURWA



Serba-Serbi tentang Wayang Purwa
Wayang merupakan bentuk konsep berkesenian yang kaya akan cerita falsafah hidup sehingga masih bertahan di kalangan masyarakat jawa hinggga kini.
Disaat pindahnya Keraton Kasunanan dari Kartasura ke Desa Solo (sekarang Surakarta) membawa perkembangan juga dalam seni pewayangan. Seni pewayangan yang awalnya merupakan seni pakeliran dengan tokoh utamanya Ki Dalang yang berceritera, adalah suatu bentuk seni gabungan antara unsur seni tatah sungging (seni rupa) dengan menampilkan tokoh wayangnya yang diiringi dengan gending/irama gamelan, diwarnai dialog (antawacana), menyajikan lakon dan pitutur/petunjuk hidup manusia dalam falsafah.
Seni pewayangan tersebut digelar dalam bentuk yang dinamakan Wayang Kulit Purwa, dilatar-belakangi layar/kelir dengan pokok cerita yang sumbernya dari kitab Mahabharata dan Ramayana, berasal dari India. Namun ada juga pagelaran wayang kulit purwa dengan lakon cerita yang di petik dari ajaran Budha, seperti cerita yang berkaitan dengan upacara ruwatan (pensucian diri manusia). Pagelaran wayang kulit purwa biasanya memakan waktu semalam suntuk.
Semasa Sri Susuhunan X di Solo seni Pakeliran berkembang medianya setelah didirikan tempat pementasan Wayang Orang, yaitu di Sriwedari yang merupakan bentuk pewayangan panggung dengan pemainnya terdiri dari orang-orang yang memerankan tokoh-tokoh wayang. Baik cerita maupun dialognya dilakukan oleh masing-masing pemain itu sendiri. Pagelaran ini diselenggarakan rutin setiap malam. Bentuk variasi wayang lainnya yaitu wayang Golek yang wayangnya terdiri dari boneka kayu.
Seniman keturunan Cina yang berada di Solo juga kadang menggelar wayang golek cina yang disebut Wayang Potehi. Dengan cerita dari negeri Cina serta iringan musiknya khas cina.
Ada juga Wayang Beber yang dalam bentuknya merupakan lembaran kain yang dilukis dan diceritakan oleh sang Dalang, yang ceritanya berkisar mengenai Keraton Kediri, Ngurawan, Singasari (lakon Panji).
Wayang Klitik adalah jenis pewayangan yang media tokohnya terbuat dari kayu, ceritanya diambil dari babat Majapahit akhir (cerita Dhamarwulan).
Dulu terkadang "wong Solo" memanfaatkan waktu senggangnya membuat wayang dari rumput, disebut Wayang Rumput
Orang jawa mempunyai jenis kesenian tradisional yang bisa hidup dan berkembang hingga kini dan mampu menyentuh hati sanubari dan menggetarkan jiwa, yaitu seni pewayangan. Selain sebagai alat komunikasi yang ampuh serta sarana memahami kehidupan, wayang bagi orang jawa merupakan simbolisme pandangan-pandangan hidup orang jawa mengenai hal-hal kehidupan yang tertuang dalam dilaog dialur cerita yang ditampilkan.
Dalam wayang seolah-olah orang jawa tidak hanya berhadapan dengan teori-teori umum tentang manusia, melainkan model-model hidup dan kelakuan manusia digambarkan secara konkrit. Pada hakekatnya seni pewayangan mengandung konsepsi yang dapat dipakai sebagai pedoman sikap dan perbuatan dari kelompok sosial tetentu.
Konsepsi-konsepsi tersebut tersusun menjadi nilai nilai budaya yang tersirat dan tergambar dalam alur cerita-ceritanya, baik dalam sikap pandangan terhadap hakekat hidup, asal dan tujuan hidup, hubungan manusia dengan Tuhan, hubungan manusia dengan lingkungannya serta hubungan manusia dengan manusia lain.
Pertunjukkan wayang terutama wayang kulit sering dikaitkan dengan upacara adat: perkawinan, selamatan kelahiran bayi, pindahan rumah, sunatan, dll, dan biasanya disajikan dalam cerita-cerita yang memaknai hajatan dimaksud, misalnya dalam hajatan perkawinan cerita yang diambil "Parto Krama" (perkawinan Arjuna), hajatan kelahiran ditampilkan cerita Abimanyu lahir, pembersihan desa mengambil cerita "Murwa Kala/Ruwatan"
KHUSUS WAYANG PURWA
Wayang purwa adalah bagian dari beberapa macam yang ada, diantaranya wayang gedog, wayang madya, wayang klitik purwa, wayang wahyu, wayang wahono dan sebagainya.
Wayang purwa sudah ada beberapa ratus tahun yang lalu dimana wayang timbul pertama fungsinya sebagai upacara menyembah roh nenek moyang. Jadi merupakan upacara khusus yang dilakukan nenek moyang untuk mengenang arwah para leluhur. Bentuk wayang masih sangat sederhana yang dipentingkan bukan bentuk wayang tetapi bayangan dari wayangan tersebut.
Perkembangan jaman dan budaya manusia selalu berkembang wayang ikut pula dipengaruhi bentuk wayang pun berubah, misalnya, bentuk mata wayang seperti bentuk mata manusia, tangan berkabung menjadi satu dengan badannya. Hal ini dipandang kurang enak maka tangan wayang dipisah, untuk selanjutnya diberi pewarna.
Perkembangan wayang pesat pada jaman para wali, diantaranya Sunan Kalijaga, Sunan Bonang dan yang lain ikut merubah bentuk wayang sehingga menjadi lebih indah bentuknya.
Langkah penyempurnaan di jaman Sultan Agung Hanyakrakusuma, jaman kerajaan Pajang, kerajaan Surakarta, jaman Pakubuwono banyak sekali menyempurnakan bentuk wayang sehingga tercipta bentuk sekarang ini, dimana telah mengalami kemantapan yang dirasa pas dihati pemiliknya.
Pengaturan wayang
Jumlah wayang dalam satu kotak tidak sama trgantung kepada pemiliknya. Jadi ada wayang yang jumlahnya 350 sampai 400 wayang, ada yang jumlahnya hanya 180 wayag dan ada yang kurang dari 180 wayang. Biasanya wayang yang banyak, wayang yang rangkap serta wanda yang banyak sesuai yang diinginkan. Pengaturan wayang pada layar atau kelir atau disebut simpingan. Di dalam simpingan wayang ada simpingan kanan dan simpingan kiri.
SIMPINGAN KIRI
1. Buto raton (Kumbakarno)
2. Raksasa muda (Prahasta,Suratimantra)
3. Rahwana dengan beberapa wanda
4. Wayang Bapang (ratu sabrang)
5. Wayang Boma (Bomanarakasura)
6. Indarajit
7. Trisirah
8. Trinetra dan sejenisnya
9. Prabu Baladewa dengan beberapa wanda
10. Raden Kakrasana
11. Prabu Salya
12. Prabu Matswapati
13. Prabu Duryudana
14. Prabu Salya
15. Prabu Salya
16. Prabu Matswapati
17. Prabu Duryudana
18. Raden Setyaki
19. Raden Samba
20. Raden Narayana

Keterangan :
Pada contoh diatas hanya secara garis besar saja. Jadi masih banyak nama tokoh yang tidak di cantumkan.
* Wayang Eblekan :
Yaitu wayang yang masih diatur rapi didalam kotak, tidak ikut disimping.
Contoh: Buta brabah, wayang wanara, wayang kewanan (hewan), wayang tatagan yang lain, misal: wadya sabrang buta cakil dan lain-lain.
* Wayang dudahan :
Yaitu wayang yang diletakkan di sisi kanan dhalang.
Contoh: Punakawan, pandita, rampogan, dewa dan beberapa tokoh wayang yang akan digunakan didalam pakeliran.
SIMPINGAN KANAN
Dimulai dari wayang Tuguwasesa diakhiri wayang bayen. Adapun wayang yang disimping adalah sebagai berikut :
1. Prau Tuguwasesa (Tuhuwasesa)
2. Werkudara dari beberapa macam wanda
3. Bratasena dari beberapa macam wanda
4. Rama Parasu
5. Gatotkaca dari beberapa macam wanda
6. Ontareja
7. Anoman dari beberapa macam wanda
8. Kresna dari beberapa macam wanda
9. Prabu Rama
10. Prabu Arjuna Sasra
11. Pandhu
12. Arjuna
13. Abimanyu
14. Palasara
15. Sekutrem
16. Wayang putran
17. Bati

Keterangan :
Wayang tersebut disimping pada debog atau batang pisang bagian atas. Untuk batang pisang bagian bawah hanya terdiri dari simpingan wayang putren.
Simpingan sebelah kiri terdiri atas:
1.Buta raton
2.Wayang buta enom (raksasa muda)
3.Wayang boma
4.Wayang Sasra
5.Wayang Satria

Untuk lebih jelasnya mari kita lihat urutan yang diatur seperti tersebut dibawah ini :
Pakem Ringgit Purwa Warni-warni:
Lakon-lakon: Peksi Dewata, Gambiranom, Semar Mantu, Bangbang Sitijaya, Wangsatama Maling, Thongthongborong, Srikandhi Mandung, Danasalira, Lesmana Buru Bojone Bangbang, Caluntang, Carapang Sasampuning Prang Baratayuda, Parikesit, Yudayana, Prabu Wahana, Mayangkara, Tutugipun Lampahan Bandung, Carangan Ingkang Kantun Jayaseloba, Doradresanala Larase Semarasupi. Bandhaloba, Ambungkus, Lahire Pandhu, Lahiripun Dasamuka, Dasamuka Tapa Turu, Lahire Indrajit, Lokapala, Sasrabahu, Bambang Sumantri, Sugriwa Subali, Singangembarawati, Anggit Dalem, Tutugipun Lampahan Wilugangga, Tunjung Pethak, Gambar Sejati, Bangbang Dewakasimpar, Ingkang Serkarta Jalintangan Suksma Anyalawadi, Samba Rambi, Antasena Rabi, Wilmuka Rabi, Partajumena, Wisatha Rabi, Sumitra Rabi, Sancaka Rabi, Antareja Rabi, Pancakumara Rabi, Sayembara Dewi Mahendra, Sayembara Dewi Gandawati, Sayembara Tal Pethak, Dhusthajumena Rabi, Pancadriya Rabi, Rukma Ical, Ugrasena Tapa, Leksmana Mandrakumara Rabi, Ada-ada Bimasuci, Pandhawa Kaobongan, Sembadra Dilarung and Secaboma (59 wayang lakon).
Pakem Ringgit Wacucal:
Lakon-lakon: Kresna Kembang, Sayembara Setyaki, Erangbaya,Kresna Gugah, Prabu Kalithi, Wilugangga, Waosan Panitibaya Lampahipun Para Dewa, Asmaradahana, Karagajawa dan Sudhamala (11 wayang lakon).
Pakem Ringgit Purwa Warni-warni:
Lakon-lakon: Sembadra Edan, Sembadra Larung, Arjuna Besus, Sukma Ngembaraning Sembadra, Peksi Gadarata, Wrekudara Dados Gajah, Cekel Endralaya, Manonbawa, Surga Bandhang, Bangbang Kembar, Bangbang Danuasmara, Palgunadi, Bimasuci, Loncongan, Wrekudara Dipun Lamar, Yuyutsuh, Samba Rajah, Sunggen Wilmuka, Lobaningrat, Anggamaya, Brajadenta Balik, Tapel Sewu, Dewakusuma, Sunggen Gathutkaca, Sugata, Tuguwasesa, Lambangkara, Semar Minta Bagus, Retna Sengaja, Prabu Pathakol, Jayamurcita, Karna Wiguna, Bangbang Supena, Pandhawa Gupak, Gugahan Kresna, Srikandhi Manguru Manah, Kresna Malang Dewa, Bangbang Sinom Prajangga Murca Lalana dan Pandha Widada (42 wayang lakon).
Pakem Ringgit Purwa:

Lakon-lakon: Angruna-Angruni, Mikukuhan, Begawan Respati, Watugunung, Wisnupati, Prabu Namintaya, Nagatatmala, Sri Sadana, Parikenan, Bambang Sakutrem, Bambang Sakri, Bagawan Palasara, Kilatbuwana, Narasoma, Basudewa Rabi, Gandamana Sakit, Rabinipun Harya Prabu Kaliyan Ugrasena, Bima Bungkus, Rabinipun Ramawidura, Lisah Tala, Obong-obongan Pasanggrahan Balesegala, Bambang Kumbayana, Jagal Bilawa, Babad Wanamarta, Kangsa Pragat, Semar Jantur, Jaladara Rabi, Alap-alapan
Surtikanthi, Clakutana, Suyudana Rabi, Jayadrata Rabi, Pandhawa Dulit, Gandamana, Kresna Sekar, Alap-alapan Secaboma, Kuntul Wilanten, Partakrama, Gathutkaca Lair, Setija, Bangun Taman Maerakaca dan Wader Bang (43 wayang lakon).
Pakem Ringgit Purwa Warni-warni:
Lakon-lakon: Sembadra Edan, Sembadra Larung, Arjuna Besus, Sukma Ngembaraning Sembadra, Peksi Gadarata, Wrekudara Dados Gajah, Cekel Endralaya, Manonbawa, Surga Bandhang, Bangbang Kembar, Bangbang Danuasmara, Palgunadi, Bimasuci, Loncongan, Wrekudara Dipun Lamar, Yuyutsuh, Samba Rajah, Sunggen Wilmuka, Lobaningrat, Anggamaya, Brajadenta Balik, Tapel Sewu, Dewakusuma, Sunggen Gathutkaca, Sugata, Tuguwasesa, Lambangkara, Semar Minta Bagus, Retna Sengaja, Prabu Pathakol, Jayamurcita, Karna Wiguna, Bangbang Supena, Pandhawa Gupak, Gugahan Kresna, Srikandhi Manguru Manah, Kresna Malang Dewa, Bangbang Sinom Prajangga Murca Lalana dan Pandha Widada (42 wayang lakon).
Pakem Ringgit Purwa Warni-warni:
Lakon-lakon: Peksi Dewata, Gambiranom, Semar Mantu, Bangbang Sitijaya, Wangsatama Maling, Thongthongborong, Srikandhi Mandung, Danasalira, Lesmana Buru Bojone Bangbang, Caluntang, Carapang Sasampuning Prang Baratayuda, Parikesit, Yudayana, Prabu Wahana, Mayangkara, Tutugipun Lampahan Bandung, Carangan Ingkang Kantun Jayaseloba, Doradresanala Larase Semarasupi. Bandhaloba, Ambungkus, Lahire Pandhu, Lahiripun Dasamuka, Dasamuka Tapa Turu, Lahire Indrajit, Lokapala, Sasrabahu, Bambang Sumantri, Sugriwa Subali, Singangembarawati, Anggit Dalem, Tutugipun Lampahan Wilugangga, Tunjung Pethak, Gambar Sejati, Bangbang Dewakasimpar, Ingkang Serkarta Jalintangan Suksma Anyalawadi, Samba Rambi, Antasena Rabi, Wilmuka Rabi, Partajumena, Wisatha Rabi, Sumitra Rabi, Sancaka Rabi, Antareja Rabi, Pancakumara Rabi, Sayembara Dewi Mahendra, Sayembara Dewi Gandawati, Sayembara Tal Pethak, Dhusthajumena Rabi, Pancadriya Rabi, Rukma Ical, Ugrasena Tapa, Leksmana Mandrakumara Rabi, Ada-ada Bimasuci, Pandhawa Kaobongan, Sembadra Dilarung and Secaboma (59 wayang lakon).
Pakem Ringgit Wacucal:
Lakon-lakon: Kresna Kembang, Sayembara Setyaki, Erangbaya,Kresna Gugah, Prabu Kalithi, Wilugangga, Waosan Panitibaya Lampahipun Para Dewa, Asmaradahana, Karagajawa dan Sudhamala (11 wayang lakon).
Pakem Wayang Purwa I:
Ki Prawirasudirja Surakarta.
Lakon-lakon: Angruna Angruni, Bambang Srigati, Bathara Sambodana Rabi, Hendrasena, Ramaparasu, Setyaki Rabi, Bagawan Sumong, Doradresana Makingkin, Tuhuwisesa, Sridenta, Bratadewa, Jayawisesa, Janaka Kembar, Jayasuparta, Endhang Madyasari, Sekar Widabrata, Samba Rabi, Partajumena Rabi, Calunthang dan Carapang.

Cerita Wayang dan Wanita
Kunti adalah sosok seorang ibu yang sangat setia terhadap putra-putranya, hal ini diperlihatkan ketika putranya ( Pandawa ) Menjalani pembuangan di alasa atau hutan Amarta, akibat tipu daya kalah judi dengan saudaranya Kurawa. Kunti sebagai figur seorang ibu raja yang lingkungan hidupnya penuh kemewahan rela mengikuti putra-putranya dalam penderitaan di pembuangan tersebut.
Diceritakan dalam pembuangan tersebut :
Putranya yang masih kecil yaitu: Nakula dan Sadewa mengalami kelaparan akibat kehabisan makanan selama dua minggu tidak pernah meminum susu dan madu lagi, yang biasanya diberikan, sehingga ibu Kunti memerintahkan Arjuna untuk mencarikan kebutuhan tersebut bagi sang putra. Dalam perjalanan mencari susu dan madu Arjuna dikagetkan oleh seorang putri, putri yang amat jelita yang berlari menuju sang Arjuna untuk mengabdikan diri bila sang Arjuna mau menolong dirinya dari kejaran sang lurah yang buruk rupa namun sakti yang ingin mengawininya.
Ketika Arjuna bertemu ki lurah tersebut, dengan bahasa yang santu memohon kepada Arjuna agar sang putri tersebut boleh dimintanya. Dengan rasa haru Arjuna menyanggupi agar si putri mau kembali dan mau diperistri ki lurah tersebut. Ketika Arjuna menyanggupinya, ki lurah berjanji akan memberikan jiwa dan raga bahkan apapun yang diminta oleh Arjuna. Kemudian ki lurah diminta kembali ke padepokannya kemudian Arjuna menemui sang putri sambil berkata " memang sudah kebetulan bahwa Arjuna diperintahkan mencari putri yang cantik yang akan dipersembahkan untuk sang maha raja agar menjadi santapannya "
Mendengar ucapan tersebut sang putri lari ketakutan dan kembali ke padepokan memeluk ki lurah untuk mendapatkan perlindungan karena akan dijadikan santapan ( padahal sebelumnya putri tersebut merasa amat jijik )
Saking senangnya ki lurah buru-buru menjumpai kembali sang Arjuna sambil mengucapkan terima kasih lalu memohon untuk menyatakan : Imbalan apa yang ingin Arjuna ingingkan ? dijawab oleh Arjuna, bahwa ia hanya menginginkan madu dan susu.
Oleh ki lurah dipilihkan madu dan susu yang sangat istimewa, bahkan ki lurah berjanji jika kelak di perang " mahabarata " ki lurah akan mempertaruhkan jiwa dan raga demi keluarga Pandawa. Setelah mendapatkan susu dan madu sang Arjuna menemui kembali sang ibu Kunti, untuk menyampaikan apa yang diperintahkannya. Dengan senang sang ibu menerima apa yang dibawa oleh Arjuna, sambil bertanya dimanakah gerangan engkau mendapatkan susu dan madu sebaik ini. Setelah diceritakan cara mendapatkannya, dengan marah sang ibu berkata untuk tidak melakukan perbuatan ini lagi bahkan membuangnya susu dan madu tadi dengan alasan apabila ini diminumkan kepada adikmu hai Arjuna akan menimbulkan malapetaka kelak dikemudian hari, karena susu dan madu tersebut didapat dengan jalan tidak halal ( ksatria ) yaitu dengan cara memanipulasi.
"Sang Arjuna pun menyesal dan memohon ampun serta berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya lagi di kemudian hari".
Kesimpulan :
1. Disinilah letak seorang ibu yang dinilai sangat bijaksana dalam memilih makanan pun diperhitungkan bagaimana cara mendapatkannya.
2. Kunti adalah sosok seorang ibu yang penuh pengabdian dan kasih sayang, dan tanggung jawab yang teramat besar terhadap putra-putranya.
3. Kunti adalah ibu yang bijaksana yang dapat memilah dan mimilih mana yang semestinya dan mana yang tidak untuk diberikan kepada putra-putranya

Jumat, 11 November 2011

BIMA



·    BIMA atau Werkudara dikenal pula dengan nama Balawa, Bratasena, Birawa, DEandunwacana, Nagata, Kusumayuda, Kowara, Kusumadilaga, Pandusiwi, Bayuseta, Sena atau Wijasena. Ia putra kedua dari Prabu Pandu, raja negara Astina dengan Dewi Kunti, putri Prabu Basukunti dengan Dewi Dayita dari negara Mandura. Bima mempunyai 2 orang saudara kandung bernama Puntadewa dan Arjuna, serta 2 orang saudara lain ibu, yaitu Nakula dan Sadewa.
·         BIMA memiliki sifat dan perwatakan; gagah berani, teguh, kuat, tabah, patuh dan jujur. Ia memiliki keistimewaan ahli bermain gada dan memiliki berbagai senjata antara lain; Kuku Pancanaka, Gada Rujakpala, Alugara, Bargawa (kapak besar) dan Bargawasta, sedangkan ajian yang dimiliki adalah aji Bandungbandawasa, Aji Ketuklindu dan Aji Blabakpangantol-antol.
·         BIMA juga mempunyai pakaian yang melambangkan kebesaran yaitu; Gelung Pudaksategal, Pupuk Jarot Asem, Sumping Surengpati, Kelatbahu Candrakirana, ikat pinggangNagabandadan celana Cinde Udaraga. Sedangkan berbagai anugerah Dewata yang diterimanya antara lain: Kampuh/kain Poleng Bintuluaji, Gelang Candrakirana, Kalung Nagasasra, Sumping Surengpati dan pupuk Pudak Jarot Asem.
·         Bima tinggal di Kadipaten Jodipati, wilayah negara Amarta. Ia mempunyai 3 orang istri dan 3 orang anak yaitu: 1. Dewi Nagagini, berputra Arya Anantareja, 2. Dewi Arimbi, berputra Raden Gatotkaca, dan 3. Dewi Urangayu, berputra Arya Anantasena.
·         Bima mempunyai akhir riwayat yang diceritakan, mati sempurna (muksa) bersama ke empat saudaranya setelah berakhirnya perang Bharatayuda,
·         (Artikel dan gambar diambil dari buku Mengenal Tokoh Wayang jilid Tiga karya Drs. H. Solichin dan Ki Waluyo.)
·         ARJUNA adalah putra Pandudewanata, raja negara Astinapura dengan Dewi Kunti/Dewi Prita, putri Prabu Basukunti, raja negara Mandura. Ia merupakan anak ketiga dari lima bersaudara satu ayah, yang dikenal dengan nama Pandawa. Dua saudara satu ibu adalah Puntadewa dan Bima/Werkudara. Sedangkan dua saudara lain ibu, putra Pandu dengan Dewi Madrim adalah Nakula dan Sadewa.
ARJUNA adalah seorang satria yang gemar berkelana, bertapa dan berguru menuntut ilmu. Selain menjadi murid Resi Durna di Padepokan Sukolima, ia juga sebagai murid Resi Padmanaba dari Pertapaan Untarayana. Arjuna pernah menjadi Pandita di goa Mintaraga, bergelar Begawan Ciptaning. Ia dijadikan jago kadewatan membinasakan Prabu niwatakawaca, raja raksasa dari negara Manimantaka. Atas jasanya itu, Arjuna dinobatkan sebagai raja di Kayangan Kaindran bergelar Prabu Karitin dan mendapatkan anugerah pusaka-pusaka sakti dari para dewa, antara lain: Gendewa dari Batara Indra, panah Ardadadali dari Batara Kuwera, Panah Cundamanik dari Batara Narada, Panah Pasopati dari Batara Guru.
ARJUNA juga mempunyai pusaka-pusaka sakti lainnya, antara lain: Keris Kyai Kalanadah, Panah Sangkali dari Resi Durna, Panah Candranila, Panah Sirsha, Keris Kyai Sarotama, Keris Kyai Baruna, Keris Pulanggeni diberikan pada Abimanyu, Terompet Dewanata, Cupu berisi minyak Jayengkaton pemberian Bagawan Wilawuk dari pertapaan Pringcendani dan Kuda Ciptawilaha dengan cambuk Kiai Pamuk. Sedangkan ajian yang dimiliki Arjuna antara lain: Panglimunan,Tunggengmaya, Sepiangin, Mayabumi, Pengasih dan Asmaragama.
ARJUNA mempunyai 18 orang istri dan 16 orang anak. Adapun istri dan anak-anaknya adalah:
Dewi Sumbadra, berputra Raden Abimanyu.
Dewi Larasati berputra Bratalaras
Dewi Srikandi
Dewi Ulupi/Palupi, berputra Bambang Irawan.
Dewi Jimambang, berputra Kumaladewa dan Kumalasakti
Dewi Ratri, berputra Bambang Wijanarko.
Dewi Dresanala, berputra Raden Wisanggeni.
Dewi Wilutama, berputra Bambang wilugangga.
Dewi Manuhara, berputra Endang Pregiwa dan Endang Pregiwati.
Dewi Supraba, berputra Raden Prabakusuma.
Dewi Antakawulan, berputra Bambang Antakadewa.
Dewi Maeswara, berputra Bambang Priambada.
Dewi Retno Kasimpar.
Dewi Juwitaningrat, berputra Bambang Sumbada.
Dewi Dyah Sarimaya.
Dewi Pamegatsih, berputra Bambang Pamagatrisna.
Dewi Gandawati berputra Bambang Gandawardaya.
Dewi Sulastri, berputra Bambang Sumitra.

ARJUNA juga memiliki pakaian yang melambangkan kebesaran yaitu: Kampuh atau Kain Limarsawo, Ikat Pinggang Limarkatanggi, Gelung Minangkara, Kalung candrakanta dan Cincin Mustika Ampal (dahulunya milik Prabu Ekalaya, raja negara Paranggelung. Ia juga banyak memiliki nama dan nama julukan, antara lain: Parta (Pahlawan Perang), Janaka (memiliki banyak istri), Permadi (tampan), Dananjaya, Kumbang Ali Ali, Ciptaning Mintaraga (pendeta suci), Pandusiwi, Indratanaya (putra Batara Indra), Jahnawi (gesit trengginas), Palguna, Danaswara (Perayu Ulung) dan Margana (suka menolong).
ARJUNA memilik sifat perwatakan: cerdik, pandai, pendiam, teliti, sopan santun, berani dan suka melindungi yang lemah. Ia memimpin Kadipaten Madukara, dalam wilayah negara Amarta. Setelah perang Bharatayuda, arjuna menjadi raja di negara Banakeling, bekas kerajaan Jayadrata. Akhir riwayat Artjuna di ceritakan, ia muksa (mati sempurna) bersama ke empat saudaranya yang lain.

FREE DOWNLOAD

Canvas 12

 Subscribe in a reader