Translate

Minggu, 10 Juni 2012

Perkawinan Narayana dengan Jembawati (Jati Diri Kepemimpinan Kresna)


Para Pandhawa hidup menyamar di Wanamarta. Yudhisthira menyamar sebagai brahmana Dwijakangka, Bima menjadi algojo bernama Jagalbilawa, Arjuna menjadi guru tari bernama Kandhiwratnala, Nakula menjadi pemelihara kuda bernama Pinten atau Dama, Sadewa menjadi gembala bernama Tangsen atau Granti. Mereka membuka hutan bersama-sama atas perintah dan ijin Raja Wiratha. Di tengah hutan Arjuna ditemui oleh Bathara Kamajaya dan Dewi Ratih. Ia diberi tahu bahwa penyamaran Pandhawa telah diketahui oleh Korawa. Arjuna harus berhati-hati. Kemudian Bathara Kamajaya dan Dewi Ratih kembali ke Cakrakembang.
Arjuna bersama panakawan mengelana di hutan. Mereka bertemu dengan Narayana dan Udawa. Narayana bercerita tentang tapanya di tepi Bengawan Kantha, dan telah memperoleh wahyu, anugerah Sang Hyang Jagadpratingkah. Narayana hendak melanjutkan perjalanan ke Gandamadana, hendak menolong Resi Jembawan yang menderita sedih. Arjuna heran mendengar keinginan Narayana. Narayana bercerita, sejak akan bertapa ia telah melamar Jembawati, anak sang resi itu. Sekarang Jembawati hilang, mungkin dibawa lari oleh Raja Trisancaya, raja negara Sriwedari. Meskipun Jembawati telah dilamar oleh Narayana, tetapi Resi Jembawan dan Trijatha ingin memberikan Jembawati kepada raja Trisancaya, sebab ia pernah berhutang budi. Narayana mengajak Arjuna untuk mencari Jembawati. Arjuna menyanggupi. Udawa disuruh kembali ke Widarakandhang untuk memberi tahu kepada Kakrasana.
Narayana dan Arjuna tiba di negara Sriwedari. Mereka masuk ke taman. Raja Trisancaya sedang merayu Jembawati. Jembawati tidak menyambut cinta Raja Trisancaya. Ia menyiapkan keris di tangan. Bila dijamah ia ingin bunuh diri. Raja Trisancaya amat kecewa, lalu berusaha menakut-nakuti Jembawati. Setelah tidak berhasil Raja Trisancaya pergi. Seorang abdi perempuan ditugaskan untuk menungguinya.
Raja Trisancaya menemui Patih Pramastha, minta agar dicarikan harimau putih untuk menakut-nakuti Jembawati. Narayana mengetahui rencana raja itu. Ia lalu menyamar, berubah wujud menjadi harimau putih. Arjuna diminta menjadi gembala harimau itu. Harimau berjalan di hutan dikawal oleh Arjuna. Mereka berjumpa dengan Patih Prawastha dan pegawai istana. Arjuna pun ditanya nama dan asal harimau itu. Arjuna menjelaskan bahwa harimau itu bernama Narasinga, binatang peliharaan Basudewa, raja Mandura. Harimau diminta untuk Raja Trisancaya, dan akan diminta bantuan supaya membujuk Jembawati agar mau menjadi permaisuri raja. Arjuna menyanggupinya. Arjuna dan Narasinga dibawa masuk ke kerajaan Sriwedari.
Harimau dan Arjuna diterima oleh sang raja. Arjuna diminta untuk mengajarkan tari kepada isteri selir Raja Trisancaya dan adik raja bernama Ambarwati. Narasinga ditugaskan membujuk Jembawati, supaya bersedia menjadi permaisuri raja.
Jembawati sedang asyik berbicara dengan para abdi. Tiba-tiba melompatlah harimau putih mendekatinya. Jembawati dan para abdi berteriak ketakutan tetapi mereka tidak mau lari. Jembawati bahkan ingin mati dimakan harimau karena ia tidak mau diperisteri Raja Trisancaya. Narasinga mengerang dan menyapanya. Jembawati heran lalu mendatangi harimau itu dengan tenang. Ia semakin heran setelah Narasinga bersikap seperti manusia. Narasinga ditanya alasan kehadirannya ke Sriwedari. Dijawab olehnya bahwa ia ingin mengabdi raja. Raja Trisnancaya dipuji dan disanjungnya. Dikatakan sang raja sungguh baik hati, ambek paramarta. Sungguh bahagia puteri yang diangkat menjadi permaisuri raja. Jembawati menjawab, ia tidak ingin diperisteri sang raja. Lebih baik mati daripada melayani sang raja. Narasinga meyalahkan sikap Jembawati yang demikian itu. Bila Jembawati menginginkan tanpa selir, Narasinga sanggup mengusulkan agar selir raja diusir dari istana. Jembawati tidak ingin mengusir para selir, tetapi ia juga tidak mau diperisteri raja, sebab ia telah bertunangan kepada Narayana. Narasinga menanggapi bahwa Narayana adalah seorang pemuda jelek, bukan keturunan raja. Ia keturunan orang hina, anak Antagopa di Desa Widarakandang, pekerjaannya menggembala ternak. Sedang Trisancaya adalah keturunan raja yang berkuasa di Ngalengka. Bukankah Jembawati itu cucu Wibisana, Raja Singgelapura. Sudah selayaknya bila Jembawati menjadi isteri Trisancaya. Sangat keliru bila ingin bersuami Narayana penggembala kambing itu. Jembawati menjawab bahwa cintanya kepada Narayana bermodal cinta sejati. Ia tidak mau bermuka dua, lebih baik mati bila urung bersuami Narayana. Narasinga melanjutkan kata-kata bujukannya. Ia mengaku lebih mengerti asal-usul Narayana, dan mengaku abdi tersayang di kerajaan Mandura. Disarankan agar Jembawati mau diperisteri Raja Trisancaya, agar kelak tdak menyesal, sebab Narayana tidak mungkin membahagiakan hidupnya. Jembawati tetap pada pendiriannya. Ia ingin bersuami Narayana meskipun bukan raja, dan ia tidak ingin minta segala sesuatu kepadanya. Sungguh besar cinta
Jembawati kepada Narayana, tidak mungkin terbeli dengan emas dan kekayaan. Narasinga terlihat marah. Ia berkata akan menelannya, akan memakan tulang-tulangnya dan meminum darahnya.
Narasinga mengerang. Para abdi ketakutan, menangis dan meminta agar tuan puterinya mau diperisteri Raja Trisancaya. Jembawati tetap tenang dan berkata kepada Narasinga bahwa ia ikhlas dimakan, sebab sudah demikian itu tekadnya. Namun sebelum dimakan ia berpesan agar Narasinga memberi tahu kepada Narayana bahwa cintanya kepada Narayana tidak luntur oleh keduniawian dan bahaya yang datang dari kerajaan Sriwedari, tidak akan gugur karena jasa-jasa Raja Trisnancaya kepada ayahnya. Cinta kasihnya kepada Narayana tidak akan pudar oleh ancaman harimau yang amat buas. Jembawati minta ijin akan bersemedi sebelum dimakan harimau itu. Selama bersamadi ia akan berdoa, semoga Narayana mendapat isteri yang lebih cantik dan selalu selamat. Setelah selesai bersamadi ia bersedia untuk dimakan.
Jembawati bersamadi, Narasinga mendekatinya dalam rupa Narayana, lalu mencubit dan mencolek dagu Jembawati. Jembawati tidak menghiraukan, dirasanya Narasinga mencium hendak memakan dirinya. Para abdi tersenyum memandang adegan romantis itu. Jembawati membuka mata, tidak terlihat lagi harimau Narasinga. Yang dipandang hanyalah Narayana kekasih dan jantung hatinya. Mereka pun asyik berwawan asmara.
Raja Trisnancaya datang, Narayana telah berubah menjadi Narasinga. Jembawati duduk berpegang Narasinga seraya mengusap-usap leher harimau itu. Raja ini melihatnya lalu berkata bahwa dirinya kalah bagus, tidak dicintai oleh Jembawati. Narasinga berkata bahwa tidak lama lagi sang putri akan menyerah kepada raja, sanggup diperisterinya. Raja berkenan lalu pergi meninggalkan taman.
Arjuna dicintai oleh selir raja Trisnancaya. Ambarwati, adik raja pun juga jatuh cinta kepada Arjuna. Hal itu diketahui oleh sang raja. Ketika Arjuna bercumbu dengan Ambarwati, sang raja marah. Arjuna dilempar tombak, maka terjadilah perkelahian. Gempar di istana Sriwedari. Para panakawan membela keselamatan tuannya. Prajurit Sriwedari membantu perang. Narasinga mengambil kesempatan keluar dan menyerang prajurit Sriwedari. Prajurit Sriwedari lari tunggang langgang dan mencari persembunyian.
Narasinga kembali menjadi Narayana, kemudian bersama Jembawati, Arjuna dan Panakawan lari meninggalkan kerajaan Sriwedari, menuju ke pertapaan Gandamadana. Kedatangan Jembawati, Narayana dan Arjuna disambut oleh Resi Jembawan dan Trijatha.
Sang Hyang Narada datang bersama bidadari di pertapaan. Kedatangan mereka atas perintah Sang Hyang Jagadnata untuk mengawinkan Jembawati dengan Narayana. Resi Jembawan menyerah dengan kehendak Dewa. Perkawinan dan perjamuan mempelai dirayakan di Gandamadana. Setelah upacara Sang Hyang Narada dan para bidadari kembali ke kahyangan.
Raja Trisnancaya bersama prajurit berusaha menyerang Gandamadana dan merebut Jembawati. Tetapi Arjuna dan Kakrasana berhasil mengusir musuh kembali ke negaranya.
\ � j � A ��� rjuna. Setelah selesai penyambutan, raja Bismaka dan Yudhisthira masuk ke istana. Bima, Nakula dan Sadewa diantar Rukmana ke balai peristirahatan. Mereka berjauhan dengan tempat tinggal warga Korawa. Kemudian Rukmana naik kuda memeriksa persiapan perhelatan, penghiasan istana dan kota sekitarnya.

Narayana berbincang-bincang dengan adiknya, Sumbadra. Sumbadra menyatakan kesedihan hatinya karena telah beberapa malam kakaknya selalu pergi sampai jauh malam. Narayana menjawab bahwa kepergiannya untuk berkunjung ke rumah para pegawai dan terhibur oleh macam-macam pertunjukan. Setiap Narayana hendak pergi, menangislah Sumbadra. Narayana menghiburnya, berlagu tembang kawi, bercerita kecantikan bidadari dan cerita yang lain. Setelah Sumbadra lengah tertidur, pergilah Narayana ke Kumbina, sedng Udawa disuruh menjaga adiknya.

Bagawan Abyasa di Wukir Retawu, duduk di wisma Wiyatasasana, dihadap para siswa. Sang Bagawan sedang menguraikan Aji Jaya Kawijayan. Tiba-tiba Arjuna datang bersama panakawan. Arjuna menghormat, lalu menyampaikan berita tentang sanak saudara dan rencana perkawinan putri Kumbina. Diceritakan bahwa sanak saudara telah hadir di Kumbina, dan Arjuna ingin menyepi di Wukir Retawu. Bagawan Abyasa tidak menyetujui sikap Arjuna itu. Disuruhnya Arjuna supaya menyusul ke Kumbina. Sang Bagawan yang bijaksana itu berkata, bahwa tidak lama lagi akan terjadi perang saudara. Arjuna terkejut mendengar kata sang bagawan, dikiranya akan terjadi perang Baratayuda. Ia mohon diri, Bagawa Abyasa merestuinya.

Arjuna dan panakawan meninggalkan pertapaan Wukir Retawu, menuju ke Kumbina. Di tengah hutan, mereka berjumpa dengan dua raksasa besar lagi dahsyat. Raksasa itu disuruh raja Wanasasomah untuk mencari dging manusia atas keinginan isteri raja yang hamil muda. Arjuna hendak ditangkap, sehingga terjadilah perkelahian hebat. Arjuna melepaskan panah, dua raksasa musnah, menjadi dewa Kamajaya dan bidadari Ratih. Arjuna datang menyembahnya. Kamajaya memberi tahu tentang perang yang akan terjadi. Yang terjadi bukan perang Baratayuda, tetapi Pandhawa dan Korawa akan terlibat di dalamnya. Setelah berpesan, Kamajaya dan Ratih naik ke Kahyangan.

Permusuhan Narayana dengan Kangsa (Jati Diri Kepemimpinan Kresna)


Kresna banyak terlibat dalam beberapa cerita, berkedudukan sebagai tokoh sampingan, tokoh pelengkap dan tokoh utama. Berikut ini beberapa cerita yang melibatkan Kresna sabagai tokoh utama. Cerita permusuhan Narayana dengan Kangsa dimuat dalam beberapa cerita atau lakon. Antara lain dalam cerita Kangsadewa, Kangsa Adu Jago dan Kangsa Adu-adu. Isi ketiga cerita itu hampir sama, yaitu cerita sejak Kangsa merebut atau meminta Kerajaan Mandura dari kekuasaan Basudewa. Kemudian kerajaan itu berhasil direbut kembali oleh Kakrasana (nama Baladewa sewaktu muda) dan Narayana (nama Kresna sewaktu muda). Isi ringkas yang dimuat dalam cerita Kangsadewa sebagai berikut:
Pada suatu ketika Raja Basudewa pergi berburu ke Hutan Kumbina. Sepeninggal raja ke hutan, datanglah raja Gorawangsa dari Negara Guwabarong yang menyamar wujud Basudewa masuk ke istana Mandura. Basudewa palsu tersebut berhasil memikat isteri Basudewa asli yang bernama Maherah.
Dikisahkan bahwa Basudewa yang sedang dalam medan perburuan di hutan berhasil membunuh harimau putih dan naga. Namun hati Sang Raja merasa tidak enak, lalu menyuruh Harya Prabu Rukma kembali ke istana untuk menyelidiki jika ada hal-hal yang tidak beres. Ternyata benar apa yang dikhawatirkan Raja Basudewa. Istana keputrian kemasukan penjahat yang menyamar sebagai Basudewa dan berhasil menggauli Maherah. Basudewa palsu berhasil dimusnahkan oleh Harya Prabu Rukma sehingga kembali berwujud Gorawangsa.
Harya Prabu Rukma kembali ke hutan Kumbina, melapor peristiwa yang terjadi di istana. Setelah mengerti perbuatan Gorawangsa dengan Maherah, raja Basudewa menyuruh agar Maherah dibunuhnya. Harya Prabu Rukma mendapat tugas untuk membunuhnya. Maherah dibawa ke hutan. Namun setelah sampai di hutan, Harya Prabu Rukma tidak sampai hati membunuh Maherah, lalu ditinggalkannya ia di tengah hutan.
Sepeninggal Harya Prabu Rukma, Bagawan Anggawangsa datang dan membawa Maherah ke Pertapaan Wisarengga. Di pertapaan, Maherah melahirkan bayi laki-laki berujud raksasa. Setelah melahirkan, Dewi Maherah meninggal dunia. Bayi itu diberi nama Kangsa, yang dipelihara sampai dewasa. Setelah dewasa Kangsa menanyakan ayahnya kepada Bagawan Anggawangsa. Sang Begawan menerangkan bahwa Kangsa adalah anak Maherah, isteri raja Mandura. Diceritakan bahwa ibu Kangsa meninggal setelah melahirkan, dan Kangsa dipungut oleh Bagawan Anggawangsa. Kemudian Kangsa diminta pergi ke Mandura. Suratimantra yang berkuasa di Guwabarong hendak membalas kematian Gorawangsa, ingin menghancurkan kerajaan Mandura. Ia kemudian menyiapkan prajurit untuk menyerang kerajaan Basudewa. Kangsa sampai di Gowardana dan berjumpa dengan Ugrasena. Kangsa berkata ingin menghadap raja Basudewa. Dengan kata-kata manis Ugrasena berjanji akan menghantar Kangsa menghadap raja, tetapi diminta supaya mengusir musuh yang menyerang kerajaan Mandura. Kangsa menyanggupinya. Ia lalu pergi melawan perajurit Suratimantra. Setelah Suratimantra tahu yang dihadapi Kangsa, ia mengira Kangsa adalah anak Gorawangsa. Suratimantra menyerah tanpa berperang, lalu dibawa menghadap Basudewa. Ugrasena bercerita tentang musuh yang datang dan pimpinan perajurit bernama Suratimantra menyerah kalah. Basudewa gentar menghadapi Kangsa. Kangsa diaku anak dan dinobatkan menjadi Adipati Sengkapura bergelar Kangsadewa, sedangkan Suratimantra diangkat menjadi patih di Sengkapura.
Adipati Kangsadewa tahu bahwa raja Basudewa mempunyai tiga anak bernama Kakrasana, Narayana dan Bratajaya. Mereka diasuh oleh Demang Antagopa dan Nyai Sagopi di Widarakandang. Adipati Kangsadewa menyuruh Kala Akura dan para prajurit untuk menyerang Widarakandang, dan menangkap tiga anak Basudewa. Prajurit Sengkapura yang dipimpin oleh Kala Akura menyerang Widarakandhang. Kebetulan Kakrasana dan Narayana sedang pergi ke pertapaan. Demang Anantagopa ditangkap dan dibunuh, namun Bratajaya dan Larasati berhasil dibawa lari oleh Nyai Sagopi. Nyai Sagopi, Bratajaya dan Larasati berjumpa Arjuna. Mereka minta perlindungan. Raksasa yang mengejar mereka musnah oleh Arjuna. Setelah bebas dari serangan raksasa mereka sepakat untuk mencari Kakrasana dan Narayana. Kangsadewa ingin merebut tahta kerajaan Mandura. Suratimantra menyarankan agar mengajak mengadu manusia. Suratimantra sanggup menjadi jago, dan taruhannya negara. Kangsadewa menyetujui usul Suratimantra, lalu berkirim surat kepada raja Basudewa. Dalam surat itu Kangsadewa mengajak mengadu jago, taruhannya negara. Basudewa gentar menghadapi Kangsadewa, sehingga tanpa dipertimbangkan permintaan Kangsadewa disanggupinya. Harya Prabu Rukma diminta pergi mencari jago. Harya Prabu Rukma menyanggupinya, lalu mohon pamit akan mencari anak Pandhu. Di tengah perjalanan ia berjumpa dengan Bratasena yang sedang mencari Arjuna. Bratasena dibujuk oleh Harya Prabu Rukma untuk menjadi jago melawan Suratimantra. Bratasena pun sanggup diajak ke Mandura.

Rama Nitis (Jati Diri Kepemimpinan Kresna)


Darmakusuma duduk dihadap oleh Kresna, Wrekodara, Nakula, Sadewa, Samba dan Satyaki. Mereka membicarakan nasib Gathotkaca. Tiba-tiba Gathotkaca jatuh dari angkasa. Mengerang kesakitan, ia merangkak menghadap raja Darmakusuma. Kemudian Harjuna datang. Raja meminta agar Arjuna segera menolong Gathotkaca. Arjuna pun mengambil anak panah yang bersarang di perut Gathotkaca dengan anak panah pula. Maka Gathotkaca sembuh kembali. Kresna ingat perjanjian yang diberikan oleh Ramawijaya dan Lesmana. Ia lalu minta ijin pergi bersama Arjuna ke Pancawati.
Di Pancawati, Ramawijaya, Lesmana dan Sugriwa tengah menanti kedatangan Anoman. Kemudian Anoman datang bersama Resi Brangtalaras. Ramawijaya minta kesediaan sang resi untuk menyembuhkan penyakit Sinta. Sang resi mendekati Sinta. Setelah diusap dahinya, sembuhlah penyakit Sinta. Lalu Sinta diserahkan kepada Ramawijaya. Resi Brangtapernali datang menghadap Ramawijaya. Dalam pertemuan itu Ramawijaya ingin menghadiahkan kerajaan Pancawati kepada Resi Brangtalaras sebagai upah pengobatan. Maka Resi Brangtalaras pun menjadi raja, sedangkan Resi Brangtapernali menjadi patihnya.
Raja Brangtalaras duduk di balai penghadapan, kemudian Cocakrawun datang menghadap, melapor kedatangan musuh dari Ngamarta. Patih Brangtapernali diminta menyambut kedatangan musuh. Maka Patih Brangtapernali terjun perang melawan warga Pandhawa. Ternyata Wrekodara, Arjuna Gathotkaca dan Satyaki tidak mampu melawan amukan Brangtapernali. Kresna segera datang menolong, dan senjata Cakra dilepaskan. Terkena Cakra, Brangtapernali berubah menjadi Srikandi. Raja Brangtalaras datang bersama Sinta. Kemudian Kresna melepaskan cakra. Terpanah Cakra, Brangtalaras berubah menjadi Sumbadra. Sedangkan Sinta lenyap setelah dicakra, menyatu dalam tubuh Sumbadra.
Bathara Guru, Bathara Narada, Bathara Panyarikan, Sambu dan Korawa berunding di Kahyangan. Bathara Guru menugaskan Bathara Narada supaya turun ke Marcapada. Anoman disuruh bertapa di Kendalisada, Wibisana diminta memerintah negara Singgela, sedangkan raja Sugriwa dan prajuritnya diminta agar masuk ke api korban, masuk ke Nirwana. Bathara Narada pun turun ke Marcapada.
Ramawijaya, Lesmana, Wibisana, Sugriwa, Anoman dan Anggada berbicara tentang persahabatan mereka dengan raja Brangtalaras dan Brangtapernali. Tengah mereka berbicara, datanglah Cocakrawun yang memberi tahu bahwa Brangtalaras dan Brangtapernali hilang di medan perang. Demikian juga Sinta.
Ramawijaya marah, lalu pergi ke medan perang. Kresna menyambut kehadiran Ramawijaya. Terjadilah perkelahian, tetapi tidak ada yang kalah. Ramawijaya ingat, pernah berjanji akan bersatu dengan manusia jelmaan Wisnu. Maka Ramawijaya bersatu dengan Kresna. Lesmana membela Ramawijaya, lalu berperang melawan Arjuna. Akhirnya Lesmana menyatu bersama Arjuna. Ternyata Arjuna tidak sanggup bersatu dengan Lesmana sehingga Lesmana dilepas dan menjelma ke dalam Baladewa. Tapi kemudian Lesmana lepas dari Baladewa, dan ingin menjelma kembali pada Arjuna. Arjuna sanggup menerima, tetapi menolak sikap wadatnya.Anoman bergulat dengan Gathotkaca. Bathara Narada datang melerai, Anoman disuruh bertapa di Kendhalisada. Kemudian Bathara Narada menemui Wibisana dan menyuruh supaya menjaga negara Singgela. Setelah damai, semua perajurit dan warga Pandhawa oleh Kresna diminta kembali ke Ngamarta.Raja Darmakusuma dihadap oleh Kresna, Wrekodara, Arjuna, Nakula, Sadewa, Gathotkaca dan Satyaki. Mereka menyambut kehadiran Sumbadra dan Srikandi.Sugriwa dan prajurit kera yang setia datang menyerang kerajaan Ngamarta. Wrekodara, Gathotkaca dan Satyaki ditugaskan mengusir perajurit kera itu. Sang Hyang Narada datang menemui perwira prajurit kera. Mereka dikumpulkan kemudian disuruh masuk ke perapian agar masuk nirwana. Kera-kera kecil banyak yang mati oleh prajurit Ngamarta yang dipimpin oleh Wrekodara.Kerajaan Ngamarta telah aman dan tenteram. Raja Darmakusuma mengadakan pesta besar bersama warga Pandhawa.

Wahyu Makutharama (Jati Diri Kepemimpinan Kresna)


Duryodana raja Ngastina duduk di atas singgasana, dihadap oleh Baladewa raja Mandura, Basukarna, Pendeta Drona, Patih Sakuni dan beberapa pegawai kerajaan Ngastina. Mereka membicarakan wahyu yang akan turun ke dunia. Raja Duryodana ingin memperoleh wahyu itu, lalu minta agar Adipati Karna bersedia mewakili untuk mencarikannya. Adipati Karna bersedia, lalu pergi bersama Patih Sakuni dan beberapa warga Korawa meninggalkan istana. Prajurit Korawa ikut mengawal perjalanan mereka.

Kresna menjadi pertapa bernama Bagawan Kesawasidi, bertempat di pertapaan Kutharunggu. Sang Bagawan dihadap oeh Anoman, Resi Maenaka, Yaksendra dan Gajah Setubanda. Adipati Karna dan Patih Sakuni datang menghadap sang Bagawan, minta Wahyu Makutharama yang sekarang ada pada Bagawan Kesawasidi. Bagawan Kesawasidi mengaku bahwa wahyu tidak ada pada dirinya. Adipati Karna tidak percaya, maka terjadilah perselisihan. Adipati Karna menyerang, tetapi dilawan oleh Yaksendra dan Yajagwreka. Bagawan Kesawasidi tidak senang melihat pertengkaran itu, maka Resi Anoman diminta melerainya. Adipati Karna melepas panah Wijayandanu, tapi panah ditangkap oleh Resi Anoman. Panah diserahkan kepada Bagawan Kesawasidi. Adipati Karna putus asa, tidak melanjutkan perkelahian. Bagawan Kesawasidi menyalahkan sikap Anoman. Resi Anoman merasa salah, lalu minta petunjuk. Resi Anoman disuruh bertapa di Kendhalisada. Resi Anoman kemudian kembali ke Kendhalisada.
Arjuna dan panakawan menjelma menjadi seorang begawan, dan sekarang ingin bersatu dengan Hyang Suksma Kawekas. Selama bersamadi ia mendapat petunjuk agar menemui Bagawan Kesawasidi. Bagawan Wibisana menghadap Bagawan Kesawasidi di Kutharunggu. Ia minta penjelasan cara mempersatukan diri dengan Hyang Suksma Kawekas. Bagawan Kesawasidi keberatan untuk menjelaskannya, lalu terjadi perkelahian. Bagawan Kesawasidi dipanah Wibisana dengan panah pemberian Ramawijaya. Seketika Bagawan Kesawasidi berubah menjadi raksasa besar dan dahsyat. Bagawan Wibisana menghormat dan minta ampun. Bagawan Kesawasidi kembali ke wujud semula, lalu bersamadi. Bagawan Wibisana ikut bersamadi. Setelah selesai, Bagawan Kesawasidi minta agar Bagawan Wibisana membuka jalan untuk air suci. Bagawan Wibisana mendapat air suci, lalu akan kembali ke sorga. Di tengah perjalanan ia melihat penderitaan suksma Kumbakarna. Suksma Kumbakarna mengganggu suksma Wibisana. Maka suksma Kumbakarna disuruh mencari Wrekodara di Marcapada.
Wrekodara mencari saudara-saudaranya. Di tengah jalan ia digoda oleh suksma Kumbakarna. Wrekodara marah, mengamuki Kumbakarna yang kadang-kadang tampak, kadang-kadang hilang. Akhirnya suksma Kumbakarna masuk ke betis Wrekodara sebelah kiri. Kemudian Wrekodara pun melanjutkan perjalanan.
Arjuna menghadap Bagawan Kesawasidi di Kutharunggu. Bagawan Kesawasidi tahu bahwa Arjunalah yang pantas ditempati Wahyu Makutharama. Bagawan Kesawasidi memberi nasihat dan menyampaikan ajaran Rama kepada Wibisana yang disebut Hasthabrata. Setelah selesai memberi wejangan dan ajaran, Bagawan Kesawasidi menyerahkan senjata Kunta kepada Arjuna. Arjuna menerima Kunta, menghormat, lalu pergi mendapatkan Karna.
Arjuna menemui Karna, menyerahkan senjata Kunta. Karna menerima senjata, kemudian berkata ingin memiliki Wahyu Makutharama. Arjuna mejelaskan makna wahyu itu, dan berkata bahwa dirinya yang memilikinya. Karna ingin merebut wahyu tersebut, maka terjadilah perkelahian di antara mereka. Karna merasa tidak mampu lalu mengundurkan diri. Arjuna kembali ke pertapaan Kutharunggu. Wrekodara telah datang menghadap Bagawan Kesawasidi. Tiba-tiba datang dua kesatria bernama Bambang Sintawaka dan Bambang Kandhihawa. Mereka ingin menaklukkan Bagawan Kesawasidi dan Arjuna. Akhirnya terjadi perang tanding. Bagawan Kesawasidi melawan Bambang Sintawaka, Arjuna melawan Bambang Kandhihawa. Bagawan Kesawasidi berubah menjadi Kresna, Bambang Sintawaka menjadi Sembadra, dan Bambang Kandihawa menjadi Srikandi.
Mereka senang dapat bertemu dan bersatu kembali, kemudian kembali ke negara, berkumpul di Ngamarta.

Brandal Kresna (Jati Diri Kepemimpinan Kresna)


Kresna raja Dwarawati duduk di Pancaniti, dihadap oleh Samba, Wresniwira, Patih Udawa dan pegawai istana. Mereka membicarakan kepergian Harjuna dari Madukara. Kresna ingin berkunjung ke Ngamarta. Patih Udawa diminta mempersiapkan kepergian raja. Kresna meninggalkan balai penghadapan lalu masuk istana, memberi tahu rencana kepergiannya kepada para isteri. Rukmini, Jembawati dan Setyaboma menyambut kedatangan Kresna. Di hadapan para istrinya, Kresna menyampaikan berita tentang kepergian Arjuna dan rencana kunjungan ke Ngamarta.
Arwah tokoh Ngalengka turun ke Marcapada lagi. Raja Dasakumara duduk di balai penghadapan, dihadap oleh Indrajit, Trisirah dan pegawai raksasa. Raja ingin beristeri Retna Dewi Puspitawara, anak Darmamuka raja Slagaima. Indrajit diberi tugas mencarikan putri raja itu. Indrajit menyanggupinya. Ia menugaskan Kala Wahmuka, Kala Pradiyu dan Kala Bisana untuk melamar ke Slagaima. Sedangkan Raja Dasakumara pergi mencari raja Kresna.
Darmamuka raja Slagaima berbincang-bincang dengan putra raja bernama Jayapuspita, Patih Jayasudarna dan para pembesar kerajaan. Mereka membicarakan lamaran raja Dasakumara. Jayapuspita ditugaskan mencari perlindungan. Di pertengahan jalan mereka bertemu dengan utusan dari Tawanggantungan. Terjadilah perkelahian, tetapi Jayapuspita menyimpang jalan mencari selamat.
Arjuna tengah bertapa di gunung Candhirinengga, dengan nama Bambang Madusekti. Jayapuspita dan Patih Jayasudarma datang. Mereka berdua minta kesediaan Bambang Madusekti untuk melindungi Kerajaan Slagaima. Bambang Madusekti menyanggupinya lalu berangkat, dikawal oleh para punakawan. Jayapuspita dan Patih Jayasudarma menyertainya. Di tengah hutan mereka dihadang oleh raksasa dari Tawanggantungan. Terjadilah perkelahian. Raksasa dapat dikalahkan oleh Bambang Madusekti.
Bambang Madusekti tiba di Slagaima, menghadap raja Darmamuka. Setelah bertanya Bambang Madusekti masuk ke istana, menghadap permaisuri raja, kemudian diperkenalkan dengan Retna Puspitawara, putri raja Darmamuka. Bambang Madusekti menyatakan bersedia saat diminta raja memperisteri putrinya.
Indrajit duduk bersama Trisirah, Trikaya, Narataka, Dewataka dan Yaksadewa. Kemudian datanglah Wijamantri dan Tejamantri. Mereka memberi tahu bahwa prajurit raksasa musnah oleh Bambang Madusekti.
Raja Darmamuka duduk di atas singgasana, dihadap oleh Jayapuspita, Patih Jayasudarma dan Bambang Madusekti. Tiba-tiba terjadilah huru-hara di luar istana. Api berhamburan di angkasa. Bambang Madusekti minta pamit untuk memadamkan api itu. Raja mengijinkannya. Bambang Madusekti matek aji, hujan turun, api pun padam. Bambang Madusekti tahu bahwa musuh datang dari angkasa. Ia lalu mengangkasa. Musuh diserang dengan panah Bajra, maka lenyaplah musuh dari Tawanggangtungan. Setelah aman Bambang Madusekti mohon pamit berkelana ke hutan bersama punakawan.
Di pertapaan Candhana Sapilar, Bagawan Sidikwacana dihadap oleh Endang Mutyara. Endang Mutyara bercerita kepada sang bagawan, bahwa ia bermimpi bertemu dengan Bambang Madusekti. Ia minta dicarikan dengan pria yang ditemui dalam mimpi itu. Bagawan Sidikwacana meninggalkan pertapaan hendak mencari Bambang Madusekti.
Perjalanan Bagawan Sidikwacana tiba di hutan. Ia bertemu dengan Bambang Madusekti. Sang bagawan bercerita tentang mimpi anaknya, lalu minta kesediaan Bambang Madusekti ikut ke Candhana Sapilar. Mula-mula Bambang Madusekti tidak mau, namun setelah tersekap oleh sang bagawan ia menyerah dan bersedia diajak ke pertapaan. Di pertapaan ia dipertemukan dengan Endang Mutyara. Bambang Madusekti jatuh cinta, dan mau mengawininya.
Yudhistira raja Ngamarta berbicara dengan Wrekodara, Nakula dan Sadewa tentang kepergian Arjuna. Raja Dwarawati datang memberitahu bahwa kepergian Arjuna untuk keperluan perkawinan. Kresna ingin mencari Arjuna, sepekan kemudian Wrekodara diminta menyusul ke kerajaan Slagaima. Setelah berpamitan Kresna menuju kerajaan Slagaima. Di tengah perjalanan Kresna dikejar raja Dasakumara. Kresna lari, lalu masuk pertapaan.
Bambang Madusekti menghadap Bagawan Sidik Wacana, minta pamit akan ke kerajaan Slagaima. Ia memberi tahu kepada sang bagawan, bahwa isterinya telah mengandung. Bila telah lahir ia minta agar anaknya diberi nama Bambang Nilasuwarna. Sepeninggal Bambang Madusekti dan para panakawan, Kresna datang menghadap sang bagawan. Sang bagawan berkata bahwa Bambang Madusekti pergi ke kerajaan Slagaima. Raja Dasakumara datang di pertapaan mencari Kresna. Sang bagawan berkata bahwa di pertapaan tidak ada Kresna. Raja Dasakumara marah, sang bagawan diserangnya. Raja Dasakumara mati terkena pusaka Bagawan Sidikwacana.
Sang Hyang Yamadipati turun ke Marcapada bersama Dewi Sari Monglang. Mereka menemui bangkai Dasakumara. Dewi Sari Monglang minta agar Dasakumara hidup lagi. Sang Hyang Yamadipati menghidupkan Dasakumara. Maka Dasakumara pun hidup lagi lalu mendekati Dewi Sari Monglang. Sang Hyang Yamadipati dan Dewi Sari Monglang ketakutan, lalu lari.
Kresna berhasil mendahului perjalanan Bambang Madusekti. Ia mencegat Bambang Madusekti, terjadi perdebatan. Kresna marah atas kepergian Bambang Madusekti (Arjuna) tanpa pamit. Sang Hyang Yamadipati dan Dewi Sari Monglang datang di empat Kresna. Mereka minta perlindungan. Dasakumara datang, Bambang Madusekti menyongsongnya. Terjdilah perkelahian. Dasakumara musnah oleh panah Bambang Madusekti. Kemudian Kresna, Bambang Madusekti dan panakawan melanjutkan perjalanan ke Slagaima.
Raja Yudhistira duduk di atas singgasana, dihadap oleh Wrekodara, Nakula, Sadewa, Patih Tambak Ganggeng, dan Gathotkaca. Wrekodara dan Gathotkaca diminta mencari Arjuna. Mereka berdua lalu berangkat.
Raja Darmamuka dan Jayapuspita menyambut kedatangan Bambang Madusekti. Bambang Madusekti minta ijin akan kembali menjenguk ibu dan saudara. Tiba-tiba datang serangan perajurit Tawanggantungan. Bambang Madusekti minta pamit akan memberantas musuh yang datang. Raja mengijinkannya. Wrekodara dan Gathotkaca datang membantunya. Serangan musuh dapat dipatahkan. Kerajaan Slagaima aman kembali.
Kresna, Wrekodara, Gathotkaca dan Bambang Madusekti menghadap raja Darmamuka. Kresna minta agar Bambang Madusekti, yang sebenarnya Arjuna, diijinkan kembali ke Ngamarta. Raja Darmamuka mengijinkan setelah pesta di kerajaan Slagaima selesai.
Setelah pesta selesai Arjuna kembali ke Ngamarta bersama Wrekodara dan Gathotkaca. Sedangkan Kresna kembali ke Dwarawati.

Kresna Sungging (Jati Diri Kepemimpinan Kresna)


Raja Kresna duduk di atas singgasana, dihadap oleh Wisnubrata, Patih Udawa dan Setyaki. Datanglah Patih Sengkuni utusan Suyudana, raja Ngastina. Kresna diminta menghadiri dan menjadi saksi penobatan Bagawan Sabdajati yang diangkat sebagai pujangga istana, menggantikan Pendeta Drona. Pendeta Drona telah lama pergi meninggalkan kerajaan Ngastina. Kresna sanggup menghadiri upacara itu. Kemudian ia masuk istana untuk berpamitan kepada para isteri. Wisnubrata dan Satyaki diserahi menjaga istana Dwarawati. Kresna dan Sengkuni berangkat menuju Ngastina. Raja Baladewa datang di Dwarawati, disambut oleh Wisnubrata, Patih Udawa dan Satyaki. Setelah diberi tahu bahwa raja Kresna ke kerajaan Ngastina, Baladewa berpamitan akan menyusul ke Ngastina.
Raja Suyudana dihadap oleh warga Korawa, Adipati Karna, Indraswara dan Bagawan Sabdajati. Datanglah Patih Sengkuni bersama Kresna. Raja memberi tahu tentang rencana pengangkatan pujangga istana. Kresna mengusulkan agar jabatan pujangga diberikan kepada orang lain. Ia tidak setuju bila Sabdajati diangkat menjadi pujangga Ngastina. Terjadilah perdebatan antara Kresna dengan Bagawan Sabdajati. Mereka bertentangan pendapat. Kresna pergi meninggalkan pertemuan. Bagawan Sabdajati marah, Kresna pun dikejarnya. Di tengah jalan bagawan tersebut berjumpa raja Baladewa dan pengawalnya. Terjadilah perdebatan antara Baladewa dengan Bagawan Sabdajati. Mereka berkelahi. Baladewa terkena sabda sang Bagawan, dan berubah wujud menjadi patung. Satyaki yang membelanya juga terkena sabda, dan berubah menjadi pohon tal putih, berdiri di tengah jalan. Arjuna dan panakawan mengembara di hutan, mencari Yudhisthira dan Wrekodara yang telah lama meninggalkan kerajaan Ngamarta. Di tengah hutan, Arjuna dikeroyok raksasa, tetapi raksasa dapat dikalahkan. Dhang Hyang Drona tengah berdiri di tepi samodera, merenungkan perselisihannya dengan raja Suyudana. Ia ingin menjabat pujangga istana, tetapi raja berkehendak Drona menjadi brahmana kerajaan. Datanglah Bathari Pramoni. Ia memberi nasihat agar Drona hidup menyamar, sehingga cita-cita Drona bisa tercapai. Bathari Pramoni mengubah Dhang Hyang Drona menjadi Garuda, diberi nama Mintasih. Bathari Pramoni minta agar Garuda selalu memberi pertolongan kepada orang-orang yang sedang kesusahan.
Dalam perjalanan Arjuna bertemu dengan Kresna. Kresna bercerita tentang hal ihwal yang terjadi di Ngastina. Mereka setuju menuju ke Ngastina. Di tengah perjalanan
Mereka melihat patung dan pohon tal putih. Mereka heran. Kresna mengamat-amati dengan seksama. Ia mengira patung dan pohon itu semula manusia. Patung dan pohon tal lalu disayembarakan, siapa yang dapat mengembalikan ke wujud semula akan dipenuhi segala permintaannya. Garuda Mintasih mendengar, lalu menghadap Kresna. Garuda minta ijin akan mengembalikan wujud patung dan pohon tal. Berhasillah usaha Garuda, patung dan pohon kembali menjadi raja Baladewa dan Satyaki. Karena kesaktian Kembang Wijayakusuma, Garuda berubah menjadi Dhang Hyang Drona. Namun Dhang Hyang Drona minta mati. Kresna membuat lukisan yang menggambarkan Aswatama mati diinjak Gajah Putih. Dikatakan oleh Kresna, di situlah Dhang Hyang Drona akan mati. Kemudian Kresna, Baladewa, Arjuna dan Panakawan pergi menuju kerajaan Ngastina.
Yudhisthira dan Wrekodara menghadap Sang Hyang Wenang di Kahyangan Mereka bertanya masalah perang Bharatayudha. Pertanyaan mereka dijawab, bahwa perang mesti terjadi, karena harus diakuinya adanya kebenaran dan keadilan. Setelah banyak bicara, Sang Hyang Wenang menyuruh agar mereka pergi ke Ngastina. Di Ngastina akan ada upacara penobatan pujangga baru. Mereka diminta dengan menyamar dalam wujud resi. Mereka menjunjung perintah Sang Hyang Wenang. Yudhisthira menyamar dan berujud resi bernama Resi Wasesa, dan Wrekodara bernama Bratawasesa. Mereka berdua turun ke Marcapada, menuju Ngastina.
Raja Suyudana dihadap oleh Bagawan Sabdajati dan tokoh-tokoh Korawa. Datanglah warga Korawa, memberi tahu, bahwa di alun-alun terjadi perkelahian hebat. Seorang pendeta melawan Kresna, dan Dhang Hyang Drona melawan Arjuna. Raja Suyudana bersama Bagawan Sabdajati menuju ke alun-alun. Mereka melerai yang sedang berkelahi. Resi Wasesa kembali menjadi raja Yudhisthira dan Bratawasesa menjadi Wrekodara. Bagawan Sabdajati melerai pertengkaran mereka dan berkata, bahwa sekarang belum waktunya terjadi perang besar.
Raja Suyudana memanggil Dhang Hyang Drona dan minta agar tetap tinggal duduk sebagai brahmana di istana Ngastina. Mereka yang hadir diundang pesta di Ngastina.

Kresna Gugah (2)

Baladewa, Patih Sakuni dan Karna datang menemui Kresna. Baladewa minta kesediaan Kresna untuk diboyong ke Ngastina. Arjuna menolak keinginan Baladewa, Kresna dipertahankannya. Terjadilah pertikaian hebat. Baladewa melemparkan Nanggala, Arjuna menghindarinya. Nanggala tertancap ke bumi. Baladewa berteriak minta tolong, Kresna mau menolong, asal Baladewa mau mendermakan kekayaan kerajaan Mandura. Baladewa menyanggupinya, lalu bebas dari himpitan bumi. Suatu ketika datanglah Cantrik meminta permasuri Baladewa. Baladewa marah, Cantrik dilempar Nanggala. Cantrik menghindar dan berubah menjadi Arjuna. Nanggala masuk ke bumi. Baladewa terhimpit bumi sejak berusaha mencabut Nanggalanya. Kresna datang menolong namun dengan perjanjian bahwa Baladewa diminta bertapa di Grojogan Sewu. Sebelum dijemput, Baladewa tidak boleh meninggalkan tapanya. Baladewa menyanggupinya lalu dilepas dari himpitan bumi.

Baladewa pergi bertapa di Grojogan Sewu, Sancaka yang menjaganya. Kresna berpesan agar menjaga uwaknya. Bila bangun supaya dadanya diusap dengan telapak tangan. Sebelum berangkat telapak tangan Sancaka diberi rajah Cakra, sewaktu-waktu untuk mengusap dada Baladewa bila akan bangun tidur, dan kembali ke Mandura.
Patih Pragota kebingungan ditinggal oleh Baladewa. Ia meninggalkan kerajaan, berkelana tidak tentu tujuan. Akhirnya Pragota tercebur dalam jurang. Patih Sakuni dan warga Korawa kembali ke Ngastina, menghadap raja Doryudana. Dilaporkannya, bahwa Kresna telah bangun, dan Baladewa meninggalkan istana. Mereka ingin menemui Kresna.
Raja Locanadewa berhasil menemukan Arjuna. Arjuna hendak dibunuh, sebab telah membunuh ayah Locanadewa. Arjuna bersiap-siap melawan Locanadewa. Panah sakti dilepaskan, Locanadewa pun musnah bersama prajuritnya.
Raja Duryodana berkeinginan memboyong Kresna ke Ngastina. Duryodana dan warga Korawa datang ke kerajaan Dwarawati. Kresna dengan senang menyambut kedatangan mereka. Duryodana minta agar hari itu Kresna mau diboyong ke Ngastina. Kresna tidak mau dan berkata, bahwa Duryodana nanti harus memilih dirinya atau prajuritnya. Duryodana bersikeras memboyong Kresna. Terjadilah pertikaian, prajurit Korawa mengamuk. Para Pandhawa datang menyelamatkan kerajaan Dwarawati. Wrekodara berhasil menghalau prajurit Korawa. Duryodana dan warga Korawa kembali ke kerajaan Ngastina dengan kecewa.

FREE DOWNLOAD

Canvas 12

 Subscribe in a reader